Opini dari Pirmansyah (Sekretaris Jenderal Paguyuban Sunda Muda)
Banjir dan longsor sudah jadi semacam “agenda tahunan” di banyak daerah, termasuk hari-hari ini di Sukabumi. Begitu hujan deras datang, air meluap, tanah longsor, dan yang jadi korban ya kita lagi, kita lagi. Kalau udah begini, sering kali kita sibuk nyalahin alam: hujan terlalu deras, sungai meluap, atau bahkan cuma bilang “bencana alam” dan berhenti di situ. Tapi pernah nggak kita bertanya, “Memang ini murni salah alam, atau kita yang nggak bisa menjaga keseimbangan?”
Di sinilah sebenarnya kita bisa belajar banyak dari nenek moyang kita di tanah Sunda. Mereka punya konsep leuweung atau hutan yang sangat dihormati. Bukan cuma sekadar pohon dan tanah, tapi ada filosofi mendalam soal bagaimana manusia dan alam bisa hidup berdampingan. Konsep ini membagi hutan ke dalam tiga jenis: leuweung tutupan (hutan larangan), leuweung titipan (hutan yang diwariskan), dan leuweung garapan (hutan untuk dikelola). Ketiganya punya fungsi penting yang saling melengkapi.
Leuweung Tutupan: Hutan yang Harus Dijaga Sepenuh Hati
Leuweung tutupan itu seperti benteng pertahanan kita. Hutan ini dibiarkan alami tanpa banyak intervensi manusia. Fungsinya buat melindungi lingkungan, menahan air, dan menjaga kesuburan tanah. Jadi, kalau ada hujan deras, airnya bisa diserap dulu sebelum meluber ke pemukiman.
Sayangnya, leuweung tutupan sekarang banyak yang sudah “hilang,” digantikan perkebunan, tambang, atau bahkan proyek-proyek besar. Akibatnya? Air yang dulu bisa ditahan oleh akar pohon sekarang langsung turun ke sungai, bikin banjir besar dan erosi tanah.
Leuweung Titipan: Warisan yang Harus Dilestarikan
Kemudian ada leuweung titipan, hutan yang dianggap titipan leluhur dan harus diwariskan ke generasi berikutnya. Filosofinya jelas: kita boleh mengambil manfaat dari hutan ini, tapi dengan aturan dan tanggung jawab. Misalnya, mengambil kayu atau hasil hutan lainnya tapi tidak menebang secara liar.
Masalahnya, kita sering lupa kalau ini hutan “titipan,” bukan “hak milik.” Banyak leuweung titipan berubah jadi ladang sawit, kawasan industri, atau proyek lain yang minim perhitungan lingkungan. Ini salah satu alasan kenapa bencana longsor dan banjir makin sering terjadi.
Leuweung Garapan: Hidup yang Seimbang dengan Alam
Yang terakhir adalah leuweung garapan, hutan yang dikhususkan untuk kegiatan manusia, seperti bercocok tanam atau pemukiman. Di masa lalu, pengelolaan leuweung garapan ini juga nggak sembarangan. Orang Sunda dulu paham betul bagaimana menjaga keseimbangan supaya alam nggak dirusak.
Hari ini, kita lihat banyak pemukiman yang dibangun di daerah rawan longsor, hutan ditebangi tanpa reboisasi, dan alih fungsi lahan yang tanpa henti. Kalau akhirnya bencana datang, ini bukan semata-mata salah alam, tapi kesalahan kita yang abai terhadap harmoni.
Kembali ke Pengetahuan Tradisional
Bencana alam harusnya jadi cermin besar buat kita. Selama ini, kita salah menganggap hutan cuma aset ekonomi atau lahan kosong yang bisa diubah sesuka hati. Nenek moyang kita sudah mengajarkan pentingnya menjaga keseimbangan antara manusia dan alam. Leuweung tutupan, titipan, dan garapan adalah tiga konsep sederhana yang, jika diterapkan kembali, bisa jadi solusi nyata untuk mencegah bencana di masa depan.
Mari kita berhenti sebentar dan refleksikan ini. Kita tidak akan menang melawan alam. Tapi kita bisa memilih untuk hidup selaras dengannya. Jangan sampai semua kerusakan yang kita buat hari ini jadi “warisan” terburuk untuk generasi setelah kita.
Jagalah leuweung, supaya kita juga terjaga.
