Membangun Suasana Multikultural dengan Pendekatan Pembelajaran Tanggap Budaya (Culturally Responsive Teaching)

OPINI – Di era globalisasi yang semakin pesat, keberagaman budaya menjadi keniscayaan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam lingkungan pendidikan. Suasana multikultural di kelas mencerminkan masyarakat yang beragam, dengan peserta didik yang memiliki latar belakang budaya, bahasa, dan agama berbeda (Wijaya, 2022). Sebagaimana kita ketahui, Indonesia adalah negara yang kaya akan keberagaman budaya, bahasa, dan tradisi. Kekayaan ini merupakan anugerah sekaligus tantangan.

Tantangan besar bagi dunia pendidikan adalah menciptakan lingkungan belajar yang inklusif dan menghargai perbedaan budaya, mengingat Indonesia adalah negara multikultural (Arfa & Lasaiba, 2022). Maka dari itu, penting bagi pendidik mengadopsi pendekatan pembelajaran yang dapat merespons keberagaman ini, salah satunya adalah Pendekatan Pembelajaran Tanggap Budaya (Culturally Responsive Teaching atau CRT) (Andika et al., 2024). Pendekatan ini tidak hanya membantu peserta didik dari berbagai latar belakang merasa diterima dan dihargai, tetapi juga dapat meningkatkan prestasi belajar mereka.

Perlu kita ketahui bahwa pendekatan pembelajaran Culturally Responsive Teaching ini dikatakan sebagai pendekatan pembelajaran yang responsif dan eksistensial akan keberagaman budaya dari setiap individu peserta didik. Pendekatan tanggap budaya Culturally Responsive Teaching-CRT adalah pendekatan pengajaran yang berfokus pada pengakuan, penghargaan, dan integrasi keberagaman budaya peserta didik dalam proses pembelajaran.

Culturally Responsive Teaching-CRT menekankan pentingnya mengenali dan memahami latar belakang budaya peserta didik serta menggunakan pengetahuan tersebut untuk meningkatkan efektivitas pengajaran. Dalam konteks pendidikan multikultural di Indonesia, Culturally Responsive Teaching-CRT bertujuan untuk menciptakan lingkungan belajar yang inklusif, relevan, dan responsif terhadap kebutuhan setiap individu peserta didik (Fitriani et al., 2020). Dalam praktiknya, pendekatan ini memposisikan guru sebagai fasilitator yang memiliki tugas utama untuk menghilangkan ketimpangan di dalam kelas yang muncul karena adanya keberagaman latar belakang, baik budaya, tradisi, maupun keberagaman suku bahkan perbedaan latar belakang lainnya pada setiap peserta didik.

Baca juga:  Gandeng AKSESS, Magister Pendidikan Unpam PKM di Bogor

Pendekatan Culturally Responsive Teaching-CRT dapat dilakukan diawali dengan pengakuan dan penghargaan terhadap keberagaman budaya peserta didik, di mana guru harus memahami latar belakang budaya peserta didik dan menghargai perbedaan tersebut sebagai aset dalam proses belajar mengajar (Salma & Yuli, 2023). Cara untuk mengetahui latar belakang peserta didik tentunya dengan melakukan tes diagnostik non-kognitif. Pengakuan ini juga dapat diintegrasikan dalam penggunaan sumber daya lokal dalam pembelajaran. Misalnya, pembelajaran diawali dengan cerita rakyat atau tayangan musik daerah, tayangan tarian daerah, atau bahkan mempraktikkan kesenian lokal yang tentunya dapat digunakan sebagai bahan ajar yang menarik dan relevan bagi peserta didik. Dengan cara ini, peserta didik tidak hanya belajar tentang materi pembelajaran tetapi juga mengenal dan menghargai budaya mereka sendiri dan budaya rekan sekelasnya yang memiliki budaya yang berbeda.

Selain itu, pendekatan Culturally Responsive Teaching-CRT ini berpotensi membangun hubungan emosional yang kuat dengan peserta didik. Hal ini terjadi karena dalam kegiatan pendekatan, guru menunjukkan empati dan menghargai pandangan peserta didik, serta menciptakan lingkungan kelas yang aman dan mendukung bagi peserta didik. Dalam konteks Indonesia yang multikultural, guru harus mampu mengelola perbedaan dengan bijak dan menjadikan keberagaman sebagai kekuatan dalam kelas. Artinya, membangun hubungan yang baik dengan peserta didik juga berarti mendengarkan mereka dan menghargai kontribusi peserta didik dalam proses belajar mengajar.

Ketika peserta didik merasa didengarkan dan dihargai, mereka akan lebih cenderung untuk terlibat aktif dalam pembelajaran dan merasa nyaman untuk mengekspresikan diri mereka (Wahira et al., 2024). Dengan pendekatan Culturally Responsive Teaching-CRT, berpotensi untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kesadaran sosial peserta didik. Melalui pembelajaran yang tanggap budaya, peserta didik diajak untuk berpikir kritis tentang isu-isu sosial, termasuk masalah-masalah yang berkaitan dengan tantangan keberagaman di suatu daerah. Hal ini tentu dirasa penting untuk membentuk generasi muda yang memiliki kesadaran sosial tinggi dan siap berkontribusi positif dalam masyarakat yang multikultural.

Baca juga:  Bencana Alam dan Hilangnya Warisan Leuweung Sunda

Maka jelas kiranya bahwa pendekatan pembelajaran tanggap budaya atau Culturally Responsive Teaching-CRT merupakan strategi yang sangat efektif dalam menghadapi tantangan multikultural di Indonesia. Dalam konteks pendidikan yang semakin beragam, Culturally Responsive Teaching-CRT memberikan fondasi yang kuat untuk menciptakan lingkungan belajar yang inklusif dan bermakna bagi semua peserta didik. Pendekatan ini menekankan pentingnya mengakui dan menghargai keberagaman budaya peserta didik, menyesuaikan metode pengajaran, serta membangun hubungan emosional yang kuat dan positif dengan peserta didik.

Di era globalisasi yang menghadirkan keberagaman budaya sebagai kenyataan, penerapan Culturally Responsive Teaching-CRT bukan hanya sebuah pilihan tetapi sebuah kebutuhan untuk menciptakan pendidikan yang adil dan berkualitas bagi setiap individu peserta didik. Melalui pendekatan ini, pendidik diharapkan tidak hanya mengajarkan materi secara komprehensif, tetapi juga mengakui dan menghargai perbedaan budaya peserta didik sebagai aset pembelajaran. Dengan mengintegrasikan nilai-nilai budaya yang relevan ke dalam kurikulum, Culturally Responsive Teaching-CRT memastikan bahwa setiap peserta didik dilibatkan dalam kegiatan belajar mengajar tanpa membedakan perbedaan.

Pentingnya Culturally Responsive Teaching-CRT terletak pada kemampuannya untuk meningkatkan partisipasi peserta didik dalam pembelajaran, mempromosikan pemahaman lintas budaya, dan mengurangi disparitas dalam pendidikan. Melalui penggunaan metode pengajaran yang beragam dan relevan dengan budaya peserta didik, pendidik dapat menciptakan atmosfer kelas yang kondusif bagi pertumbuhan akademik dan sosial peserta didik. Hal ini tentu penting untuk membangun kemampuan berpikir kritis dan kesadaran sosial yang lebih mendalam pada peserta didik.

Baca juga:  Mahasiswa PPG Unpam Sosialisasi Permainan Tradisional di Kampung Pemulung

Dalam konteks pendidikan multikultural di Indonesia, Culturally Responsive Teaching-CRT dapat menjadi sarana untuk membangun masyarakat yang lebih harmonis dan saling menghargai di tengah keberagaman. Melalui pendekatan ini, kita dapat memastikan bahwa setiap peserta didik memiliki kesempatan yang sama untuk berhasil dalam lingkungan belajar yang adil dan inklusif. Dengan demikian, CRT berkontribusi pada pembentukan generasi yang siap menghadapi tantangan global dengan sikap yang terbuka dan penuh penghargaan terhadap keberagaman.

Penulis: Shella Rachmawaty

NPM : 235710033

Referensi:

  • Andika, A. N. A., Anwar, M., & Mardiah, S. (2024). Upaya Meningkatkan Motivasi Belajar IPA Menggunakan Penerapan Pendekatan CRT (Culturally Responsive Teaching) di Kelas VII. A4 UPT SPF SMP Negeri 5 Makassar, 6(2), 1356–1365.
  • Arfa, A. M., & Lasaiba, M. A. (2022). Pendidikan Multikultural dan Implementasinya di Dunia Pendidikan. Geoforum, 1(2), 36–49. https://doi.org/10.30598/geoforumvol1iss2pp36-49
  • Fitriani, R., Untari, M. F. A., & Jannah, F. M. (2020). Implementasi Pendekatan Culturally Responsive Teaching (CRT) dalam Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila di Sekolah Dasar. Jurnal Basicedu, 5(5), 524–532. https://journal.uii.ac.id/ajie/article/view/971
  • Salma, I. M., & Yuli, R. R. (2023). Membangun Paradigma tentang Makna Guru pada Pembelajaran Culturally Responsive Teaching dalam Implementasi Kurikulum Merdeka di Era Abad 21. Jurnal Teknologi Pendidikan, 1(1), 1–11. https://doi.org/10.47134/jtp.v1i1.37
  • Wahira, Mus, S., & Hastuti, S. (2024). Pelatihan Pelaksanaan Pendekatan Culturally Responsive Teaching pada Guru Sekolah Dasar. Jurnal GEMBIRA (Pengabdian Kepada Masyarakat), 2(1), 117–123.
  • Wijaya, F. R. (2022). Globalisasi dalam Konsep Multikulturalisme dalam Kebudayaan. Https://Www.Academia.Edu/90353166/Globalisasi_dalam_Konsep_Multikulturalisme_Kebudayaan_Indonesia, November.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *