9M Sodik (40), Warga Sumenep Madura yang menjalankan usaha sebagai pedagang warung klontong pinggir jalan menjadi korban peredaran uang palsu dengan lembaran Rp. 100 ribu rupiah.
Uang palsu pecahan Rp. 100 ribu yang diterima ia dapatkan pada saat melayani salah satu pembeli pada saat warungnya sedang ramai pembeli. Sehingga, kewaspadaannya pun lengah untuk teliti lembaran cetakan persis yang menyerupai uang asli.
Warungnya yang buka 24 jam tersebut terletak di jalan Jombang Raya, Kelurahan Pondok Pucung, Kecamatan Pondok Aren, Kota Tangerang Selatan. Ia baru menyadari uang palsu tersebut pada saat ia membelanjakan ke tempat agen untuk kebutuhan warungnya.
“Pada saat saya belanjakan uangnya di tolak. Di bilangnya palsu oleh agen. Agen menanyakan darimana uang itu, ya saya jawab dari orang yang belanja. Saya tidak tahu orangnya siapa. Tapi memang, kemarin itu warung sedang ramai,” Jelas Sodik kepada wartawan saat di jumpai di warungnya (21/4/2025)
Kendati demikian, pihaknya pun tidak mempermasalahkan kerugian yang ia terima. Namun, hal tersebut menjadi pelajaran penting, terlebih bukan hanya kali ini saja Sodik mendapatkan uang palsu.
“Kalau bisa di total ya bisa saya hitung itu ada delapan (8) lembar. Sepanjang tahun 2024 lalu itu ada tujuh (7) lembar. Itu enam (6) lembar uang Rp.100 ribu, dan satu (1) lembar pecahan Rp. 50 ribu rupiah. Itu di dua lokasi warung ya,” jelasnya
Sodik juga menjelaskan, di tahun 2025 ini ia hanya mendapatkan satu lembar pecahan Rp. 100 ribu rupiah. Namun, ia sangat resah jika peredaran uang palsu tersebut bukan hanya menimpa kepada dirinya. Akan tetapi terjadi juga kepada kerabatnya yang juga membuka usaha warung sembako madura.
“Itu bukan cuma saya saja yang dapat uang palsu. Saya rasa pedagang lainnya juga bernasib sama. Minimal punya pengalaman yang sama seperti saya. Itu saudara saya juga. Terus kami bisa apa?, ” tanya Sodik
Dikatakannya, istri dari Sodik yang kebetulan berjaga melayani pembeli pun sempat mendapatkan uang palsu. Mendapatkan hal tersebut, ia lantas merobek uang itu didepan pemiliknya agar uang tersebut tidak bisa digunakan lagi.
“Istri saya pernah menerima uang palsu dari pembeli. Tapi langsung dia sobek didepan pemiliknya. Katanya sama saya, jangan sampai uang itu di pakai lagi untuk belanja. Kasihan pedagang kecil seperti kita,”sambungnya
Kendati demikian, ia berharap agar pemerintah dan penegak hukum dapat melakukan monitoring dan melakukan sosialisasi kepada warung-warung kecil. Agar peredaran uang palsu kepada masyarakat dapat di tanggulangi.
“Saya berharap kepada pemerintah dan aparat agar dapat mensosialisasikan bagaimana caranya mengatasi kerugian yang saya alami. Dan saya menghimbau kepada seluruh warung kecil agar berhati-hati menerima uang palsu yang semakin sulit dikenali,” tandasnya
Ia juga mengancam kepada pelaku pengedar yang mengetahui dengan sadar bahwa uang yang digunakan untuk membeli adalah uang palsu. Ia berjanji, jika kedapatan, ia akan mengamankan dan membawanya ke Kantor polisi terdekat.
“Uang Rp. 100 ribu itu besar bagi kami bang. Kan uang itu kami gunakan untuk belanja barang dagangan lagi. Besok kalau ada orang yang beli dan pakai uang palsu, saya akan tangkap tangan. Trus saya serahkan ke polisi. Saya akan sebarkan informasi ini ke kerabat saya, supaya tidak menjadi korban uang palsu,” tegasnya
Dalam pantauan wartawan, uang palsu yang masih dipegang oleh Sodik diketahui sekilas mirip dengan aslinya. Dari tampilan, benang pengaman, blindcode, hingga tanda air.
Namun saat di terawang, tidak nampak gambar salah satu pahlawan. Uang asli memiliki tanda air (watermark) yang terlihat jelas. Uang asli pada pecahan Rp100 ribu akan memunculkan gambar pahlawan W.R Supratman dan ornamen.(Adt)
