Jawa Barat, asrinews.com – Paguyuban Sunda Muda (PSM) mengadakan diskusi daring bertajuk “Antara Ekonomi dan Lingkungan: Siapa Bernyali Melaksanakan Moratorium Tambang?” pada Sabtu, 16 November 2024. Diskusi yang menghadirkan Juson Simbolon, aktivis lingkungan, serta Tri Hadian, pegiat seni budaya, menyimpulkan bahwa moratorium tambang menjadi langkah strategis untuk menjaga kelestarian budaya dan ekosistem agraris Jawa Barat.

Juson Simbolon mengungkapkan kekhawatiran terhadap eksploitasi tanah Pasundan yang digunakan untuk kepentingan reklamasi di wilayah Jakarta. “Kerusakan lingkungan yang diakibatkan tambang tak hanya merusak ekosistem, tetapi juga memicu keretakan sosial dan mengubah pola kehidupan agraris masyarakat Jawa Barat,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa moratorium tambang bukan berarti menghentikan aktivitas sepenuhnya, melainkan memberi waktu untuk mengevaluasi dampak lingkungan dan ekonomi secara menyeluruh.
Senada dengan Juson, Tri Hadian menyoroti pentingnya mempertahankan ekosistem pertanian yang menjadi dasar peradaban masyarakat Sunda. “Hutan dan lahan pertanian melahirkan budaya agraris yang kaya. Jika dikelola dengan baik, potensi ini bisa menjadi daya tarik budaya dan ekonomi yang berkelanjutan,” kata Tri Hadian.
Kedua pembicara sepakat bahwa pelaksanaan moratorium tambang adalah upaya untuk melindungi lingkungan sekaligus menjaga warisan budaya agraris Jawa Barat. Langkah ini dinilai penting untuk menciptakan keseimbangan antara kepentingan ekonomi dan pelestarian alam, serta mendorong inovasi dalam pengembangan budaya dan pariwisata berbasis agraris.
Paguyuban Sunda Muda mengajak semua pihak, terutama para calon gubernur dan wakil gubernur Jawa Barat, untuk berani mengambil sikap tegas terkait moratorium tambang demi masa depan yang lebih baik untuk provinsi ini.
Diskusi ini diharapkan menjadi referensi penting bagi debat kedua Pilgub Jabar 2024 bertema “Budaya Inovatif untuk Jawa Barat yang Gemah Ripah Repeh Rapih.”
