Jakarta — Pengusaha sekaligus tokoh nasional, Hashim Djojohadikusumo, mengungkapkan adanya upaya suap yang sempat dialami oleh Presiden terpilih Prabowo Subianto. Hal tersebut disampaikannya dalam pidato pada acara Indonesia Berdoa yang digelar oleh Forum Masyarakat Indonesia Emas (FORMAS) di Kuningan City, Jakarta Selatan, Sabtu (18/10/2025).
Dalam kesaksiannya, Hashim menceritakan bahwa beberapa bulan lalu dirinya ditelepon oleh Prabowo pada malam hari. Dalam percakapan tersebut, Prabowo mengaku baru saja ditawari suap dalam jumlah besar oleh pihak tertentu.
“Beliau menelepon saya malam hari dan mengatakan baru saja ditawari uang dalam jumlah besar. Nilainya sangat fantastis, dan tentu saja beliau menolak,” ujar Hashim dalam pidatonya, sebagaimana disiarkan melalui kanal YouTube Forum Masyarakat Indonesia Emas.
Hashim kemudian mengungkap bahwa dirinya juga pernah menghadapi upaya serupa dengan tawaran yang bahkan lebih tinggi. Ia menegaskan bahwa penolakan itu dilakukan karena alasan moral dan iman.
“Saya bukan pejabat, tapi pernah ditawari jumlah yang lebih besar. Saya tolak, karena saya percaya Tuhan menolong kita yang beriman,” katanya.
Hashim menilai kejadian tersebut sebagai bentuk tantangan moral dan spiritual yang dihadapi bangsa, terutama bagi pemimpin yang berusaha menegakkan pemerintahan bersih.
Bahas Tantangan Bangsa dan Upaya Pemerintah Menertibkan Sektor Tambang
Dalam pidatonya, Hashim juga menyoroti berbagai tantangan nasional, termasuk praktik-praktik ilegal di sektor pertambangan dan energi. Ia menyebut saat ini pemerintah tengah berupaya menertibkan tambang-tambang ilegal yang dikuasai pihak-pihak tertentu serta membongkar mafia migas yang telah lama merugikan negara.
“Masih banyak penjahat yang berusaha memengaruhi kebijakan dengan cara menyuap. Tapi pemerintah saat ini tetap kuat dan solid menghadapi tantangan itu,” ucapnya.
Ia menilai Indonesia beruntung memiliki pemerintahan yang stabil di tengah situasi politik global yang tidak menentu. Hashim mencontohkan kondisi di beberapa negara Eropa yang mengalami krisis kepemimpinan dan ketidakstabilan politik.
“Kita patut bersyukur, Indonesia masih bersatu dengan segala kekurangannya. Banyak negara lain mengalami kekacauan politik, tapi kita masih utuh,” ujar adik dari Presiden terpilih tersebut.
Ajak Dialog dan Tolak Intoleransi
Hashim juga mengingatkan pentingnya menjaga kerukunan dan mengedepankan dialog dalam menyelesaikan perbedaan pandangan politik maupun sosial. Ia menekankan agar lawan politik tidak dianggap musuh, melainkan mitra yang memiliki pendapat berbeda.
“Yang penting kita bisa berdamai. Anak-anak dan cucu kita jangan dirugikan oleh perpecahan,” tuturnya.
Selain itu, ia menyinggung masih adanya kasus-kasus intoleransi di sejumlah daerah, seperti Padang, Sukabumi, dan Tangerang. Namun, Hashim menegaskan bahwa aparat penegak hukum telah menunjukkan langkah-langkah nyata dalam menanganinya.
“Kapolda dan penegak hukum sudah bertindak. Kita perlu mendukung mereka dan melibatkan semua tokoh agama untuk menjaga perdamaian,” ujarnya.
Tekankan Peran FORMAS dalam Mengawal Pemerintahan
Menutup pidatonya, Hashim menyampaikan bahwa salah satu tugas penting FORMAS adalah mendampingi dan mengawal kinerja pemerintahan agar tetap berada di jalur yang benar. Ia mendorong masyarakat untuk menyalurkan kritik dan laporan melalui jalur resmi, seperti Ombudsman atau lembaga negara terkait.
“Kalau ada kekurangan dalam kebijakan, laporkan lewat jalur resmi dulu. Bila belum ditindaklanjuti, baru sampaikan ke saya. Nanti saya teruskan ke Presiden,” kata Hashim.
Ia juga berpesan agar masyarakat tetap berdoa dan saling mengingatkan dalam menjaga moralitas bangsa.
“Jangan saling menghakimi sesama manusia. Hanya Tuhan yang berhak menilai kita. Yang penting kita tetap rukun dan damai,” pungkasnya.
Acara Indonesia Berdoa yang digelar oleh FORMAS tersebut dihadiri sejumlah tokoh nasional, pejabat, dan perwakilan berbagai organisasi masyarakat. Acara ini bertujuan untuk memperkuat nilai keagamaan dan kebangsaan di tengah situasi politik dan ekonomi yang dinamis.(Adt)
