Oleh: Mohammad Nasir, Wakil Ketua Umum SMSI Bidang Pendidikan
Perusahaan media siber kini menghadapi tantangan untuk menghasilkan jurnalisme berkualitas. Salah satu kunci utama adalah kemampuan wartawan untuk berpikir kritis. Dengan berpikir kritis, wartawan dapat menyaring informasi secara mendalam, memastikan kebenaran berita, dan membedakan fakta dari kebohongan.
Menghindari Hoaks di Era AI
Artificial intelligence (AI) yang sering digunakan sebagai alat bantu di media, harus dihadapi dengan skeptisisme. Informasi dari AI memerlukan verifikasi menyeluruh sebelum digunakan. Jika tidak, media berisiko menyebarkan hoaks, yang bertentangan dengan prinsip utama jurnalisme: kejujuran dan kebenaran.
Ketua Umum SMSI, Firdaus, menegaskan pentingnya pendidikan berpikir kritis bagi wartawan. “SMSI mendukung program pelatihan untuk mendidik wartawan agar mampu memproduksi berita berkualitas. Hal ini dilaksanakan melalui Forum Pemred SMSI yang melibatkan pemimpin redaksi sebagai pendidik,” ujarnya.
Seminar nasional bertema Jurnalisme Versus Artificial Intelligence (AI) yang digelar Dewan Pers pada 11 Desember 2024 menekankan perlunya verifikasi ketat saat menggunakan informasi berbasis AI. “Skeptisisme harus menjadi dasar agar media tidak menjadi pelaku penyebar hoaks,” simpul seminar tersebut.
Kebebasan Berpikir dan Skeptisisme
Berpikir kritis tidak hanya soal mengevaluasi informasi, tetapi juga soal kebebasan untuk berpikir secara mendalam dan logis. Kebebasan ini dijamin oleh Pasal 28 UUD 1945 serta UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. Kebebasan pers adalah salah satu pilar demokrasi yang memungkinkan wartawan untuk menggali dan menyampaikan informasi dengan tanggung jawab.
Namun, banyak wartawan enggan bersikap kritis karena takut kehilangan relasi atau jabatan. Padahal, berpikir kritis membutuhkan keberanian untuk meragukan informasi yang ada, seperti yang diajarkan filsuf Rene Descartes dalam pernyataannya, “Cogito, ergo sum” (Aku berpikir, maka aku ada).
Mendidik Wartawan Berpikir Kritis
SMSI bersama Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) melalui Sekolah Jurnalisme Indonesia (SJI) telah memasukkan materi berpikir kritis dalam program pendidikannya. Dalam pelatihan tersebut, peserta dilatih untuk skeptis terhadap informasi, baik lisan maupun tertulis, dan mencari kebenaran melalui proses verifikasi yang ketat.
Melalui program pendidikan ini, SMSI berkomitmen mencetak wartawan yang tidak hanya berpikir kritis, tetapi juga menjunjung tinggi etika dan tanggung jawab, untuk mendorong jurnalisme berkualitas yang berpihak pada kebenaran dan kemajuan bangsa.
