Pelantikan Pengurus KMB UMJ 2026–2027 Soroti Regenerasi dan Masa Depan Pemuda Betawi

JAKARTA — Keluarga Mahasiswa Betawi Universitas Muhammadiyah Jakarta (KMB UMJ) melantik jajaran pengurus periode 2026–2027 dalam rangkaian kegiatan Dialog Kebudayaan di Aula Ikalum Universitas Muhammadiyah Jakarta, 28 September 2026.

Kegiatan tersebut mengangkat tema “Merawat Tradisi, Menguatkan Identitas, dan Menggerakkan Generasi Betawi di Tengah Arus Globalisasi.” Selain menjadi bagian dari agenda organisasi, dialog tersebut menjadi ruang untuk membahas sejumlah persoalan yang dihadapi generasi muda Betawi, terutama terkait regenerasi dan keterlibatan pemuda dalam ruang-ruang strategis di tingkat nasional.

Ketua Umum KMB UMJ, Rafi Putra Rabbani, mengatakan persoalan regenerasi tidak dapat hanya dilihat dari satu sisi.

Menurutnya, masih terdapat keterbatasan ruang kepercayaan yang diberikan kepada generasi muda oleh kelompok senior. Di sisi lain, pemuda Betawi juga dinilai perlu meningkatkan keberanian dan inisiatif untuk mengambil peran.

Rafi menilai kondisi tersebut menjadi tantangan yang harus dihadapi secara bersama. Ia mendorong generasi muda Betawi tidak hanya menunggu kesempatan, tetapi mulai membangun kapasitas dan menghasilkan kontribusi yang dapat dirasakan lebih luas.

“Persoalan regenerasi harus dilihat secara objektif. Ada ruang bagi pemuda yang belum sepenuhnya terbuka karena masih kuatnya dominasi generasi sebelumnya. Namun, anak muda juga perlu melakukan introspeksi karena belum banyak yang berani mengambil langkah strategis dan menghadirkan kontribusi nyata bagi Indonesia,” kata Rafi dalam keterangannya.

Dalam dialog tersebut, KMB UMJ juga menyoroti perlunya perubahan cara pandang terhadap kebudayaan Betawi. Pelestarian budaya dinilai tidak cukup hanya dilakukan melalui kegiatan seni, tradisi, maupun pengenalan sejarah.

Kebudayaan Betawi, menurut KMB UMJ, perlu ditempatkan sebagai bagian dari identitas sekaligus landasan bagi generasi muda untuk berkontribusi dalam berbagai bidang kehidupan. Ruang tersebut mencakup sektor sosial, ekonomi, pendidikan hingga kebijakan publik.

Karena itu, organisasi mahasiswa tersebut menempatkan kaderisasi sebagai salah satu bagian penting dalam menyiapkan generasi muda Betawi agar mampu beradaptasi dengan perubahan zaman.

Rafi mengatakan KMB UMJ diarahkan menjadi ruang pembinaan bagi mahasiswa Betawi untuk mengembangkan kapasitas akademik, kemampuan berorganisasi, serta kepedulian terhadap persoalan masyarakat.
Ia berharap kader yang lahir dari proses tersebut tidak hanya memiliki pemahaman mengenai kebudayaan Betawi, tetapi juga memiliki kompetensi untuk bersaing dan mengambil posisi dalam berbagai bidang strategis.

KMB UMJ Siapkan Program Literasi dan Pemberdayaan
Pasca pelantikan pengurus baru, KMB UMJ berencana mengembangkan sejumlah program yang berkaitan dengan penguatan literasi, pemberdayaan ekonomi dan keterlibatan dalam pengawalan kebijakan publik.

Program tersebut diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat kapasitas pemuda Betawi sekaligus menjaga keberlangsungan kebudayaan Betawi di tengah perubahan sosial dan arus globalisasi.

KMB UMJ juga mendorong adanya hubungan yang lebih terbuka antara generasi senior dan generasi muda. Kolaborasi lintas generasi dinilai penting agar proses regenerasi tidak berjalan secara terpisah, melainkan saling melengkapi.

Organisasi tersebut mengajak tokoh masyarakat, generasi senior, mahasiswa dan pemuda Betawi untuk membangun ruang kolaborasi yang lebih luas. Dengan demikian, pelestarian budaya tidak berhenti pada menjaga warisan masa lalu, tetapi juga diarahkan untuk membentuk generasi yang mampu berkontribusi dalam kehidupan masyarakat dan pembangunan nasional.

Keluarga Mahasiswa Betawi Universitas Muhammadiyah Jakarta (KMB UMJ) merupakan organisasi kemahasiswaan berbasis kedaerahan dan kebudayaan. Organisasi ini bergerak dalam bidang kaderisasi, pemberdayaan pemuda, pengabdian masyarakat dan pelestarian kebudayaan Betawi dengan pendekatan akademis serta kebangsaan.(Adt/Rls)