Tangsel, AsriNews – Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq bersama Ketua Komisi XII DPR RI Bambang Patijaya melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke pabrik pengelolaan sampah yang berlokasi di depan Vihara Siddharta, Tangerang Selatan (Tangsel). Pabrik ini merupakan Material Recovery Facility (MRF) dengan kapasitas 60 ton per hari yang mendaur ulang berbagai jenis sampah, termasuk limbah rumah tangga, komersial, dan industri.
Sidak ini turut didampingi sejumlah organisasi kepemudaan (OKP) dari Banten dan Tangerang Selatan, seperti DPD GEMABUDHI Banten, PC HIKMAHBUDHI Tangerang Selatan, DPC GEMABUDHI Tangerang Selatan, DPC GAMKI Tangerang Selatan, serta DPD Pemuda Katolik Banten.
Ketua Komisi XII DPR RI Bambang Patijaya menegaskan bahwa lokasi pabrik tidak tepat dan berpotensi mengganggu aktivitas ibadah umat Buddha.
“Tidak pantas dan tidak sepatutnya pabrik pengelolaan sampah berada di depan rumah ibadah. Ini bisa mengganggu kenyamanan umat dalam beribadah,” ujarnya.
Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq juga menyampaikan hal serupa. Ia menegaskan bahwa pabrik tersebut akan ditutup sementara sambil menunggu kajian lebih lanjut terkait perizinan.
“Lokasi pabrik ini kurang tepat karena berseberangan dengan Vihara. Kami akan menutup sementara dan mengkaji ulang perizinan serta dokumen pendukung lainnya,” kata Hanif.

Ketua PC HIKMAHBUDHI Tangerang Selatan, Trio Anggara, bersama para ketua OKP lintas agama lainnya, mengapresiasi langkah cepat pemerintah dalam menindaklanjuti keluhan masyarakat.
“Kami sangat berterima kasih kepada Bapak Bambang Patijaya dan Bapak Hanif Faisol Nurofiq yang telah turun langsung melihat permasalahan ini. Sejak awal pembangunan, tidak ada sosialisasi kepada masyarakat, dan kini operasional pabrik ini sangat mengganggu lingkungan sekitar,” ujar Trio.
Lebih lanjut, Menteri Lingkungan Hidup juga mempertimbangkan agar lokasi pabrik bisa dialihfungsikan untuk fasilitas lain yang lebih bermanfaat bagi masyarakat.
“Jika nantinya pabrik ini dinilai tidak layak berdiri di sini, kami akan mempertimbangkan opsi lain, seperti mengalihkannya menjadi fasilitas olahraga agar lebih bermanfaat,” tambah Hanif.
Trio Anggara berharap agar pemerintah benar-benar merealisasikan rencana tersebut. Menurutnya, keberadaan pabrik sampah di depan Vihara akan berdampak negatif, terutama bagi umat Buddha yang beribadah di sana, yang jumlahnya mencapai 500 hingga 1.000 orang per minggu.
